1000 Siswa Banyuwangi Deklarasikan Zero Bullying , MAKI Jawa timur Kobarkan Revolusi Anti Perundungan
Jember RECORDJATIM ID–
Gerakan melawan perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan terus digaungkan. Kali ini, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur menginisiasi gerakan Revolusi Anti-Bullying dengan melibatkan sekitar 1.000 siswa dari 17 sekolah di Kabupaten Banyuwangi.

Kegiatan yang mengusung tema “Menuju Sekolah Aman dan Bermartabat” tersebut digelar pada Sabtu (31/10/2026), di kawasan Pancoran, water park Rogojampi, Banyuwangi. Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan” The Biggest Culture of Jawa Timur . With UKM/UMKM and Ekraf – Fiesta 2026 .
Peserta yang hadir berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD, MTS, SMP ,hingga SMK. Selain para siswa, kegiatan ini juga melibatkan guru pendamping dari masing-masing sekolah sebagai bentuk dukungan dunia pendidikan terhadap gerakan pencegahan perundungan.
Suasana kegiatan semakin membara ketika Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, didampingi jajaran pengurus MAKI ,menyampaikan orasi penyemangat di hadapan sekitar seribu peserta.
Dalam pidatonya, Heru mengajak seluruh siswa untuk mengambil peran aktif sebagai pelopor sekaligus pelapor tindakan perundungan di lingkungan sekolah.
“Hari ini kalian adalah pelopor dan pelapor bullying di Kabupaten Banyuwangi! Hari ini kita wujudkan Kabupaten Banyuwangi menjadi Zero Bullying! Tidak ada bullying di Kabupaten Banyuwangi,” tegas Heru.
Seruan tersebut disambut sorak-sorai dan tepuk tangan meriah dari para peserta. Semangat untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas perundungan pun menggema di kawasan Hotel Pancoran.
MAKI Jatim Luncurkan Nomor Pengaduan Bullying
Tidak sekadar menggelar deklarasi, MAKI Jatim juga menunjukkan komitmen nyata melalui peluncuran nomor pengaduan khusus kasus bullying, yakni 081337463972.
Saluran pengaduan tersebut disiapkan sebagai sarana bagi masyarakat, siswa, maupun pihak sekolah untuk menyampaikan laporan terkait tindakan perundungan. Dengan adanya kanal ini, diharapkan setiap laporan dapat memperoleh perhatian dan penanganan secara serius, cepat, serta tepat.
Sebelum deklarasi dilaksanakan, para peserta terlebih dahulu mendapatkan edukasi mengenai berbagai bentuk perundungan. Materi yang disampaikan mencakup bullying fisik, verbal, sosial, hingga cyberbullying yang semakin menjadi perhatian di tengah perkembangan dunia digital.
Edukasi ini bertujuan membangun pemahaman bahwa perundungan bukan persoalan sepele. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk mencegah, melaporkan, dan menghentikan segala bentuk tindakan intimidasi maupun kekerasan di lingkungan pendidikan.
Lima Poin Deklarasi Anti-Bullying
Puncak kegiatan ditandai dengan deklarasi bersama yang dipimpin Heru Satriyo. Ribuan peserta secara serentak mengangkat tangan sebagai simbol komitmen untuk menolak segala bentuk perundungan.
Dalam kesempatan tersebut, Heru Satriyo membacakan lima poin Deklarasi Anti-Bullying yang menjadi landasan gerakan bersama, yaitu:
1.Menolak segala bentuk bullying, baik fisik, verbal, maupun cyberbullying.
2.Aktif menyebarkan energi positif dan mengajak lingkungan pendidikan menjauhi segala bentuk perundungan.
3.Menghargai perbedaan serta menumbuhkan sikap peduli demi terciptanya hubungan sosial yang harmonis.
4.Menjadi pelopor dan pelapor dengan bersikap tegas menolak kekerasan serta intimidasi.
5.Mewujudkan sekolah ramah anak guna membentuk Generasi Emas 2045 yang berkarakter dan berlandaskan Pancasila.
Deklarasi tersebut menjadi seruan moral sekaligus ajakan kepada seluruh elemen pendidikan untuk membangun budaya saling menghormati dan menghargai sesama.
Pendidik Apresiasi Gerakan Anti-Perundungan
Dukungan terhadap gerakan tersebut juga datang dari kalangan pendidik. Nanik Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan MTS 4 Banyuwangi , menyampaikan bahwa anak anak senang dan sangat antusias sekali hadir di kegiatan ini ,semoga dari kegiatan ini kami sangat berharap ada tindak lanjut lagi sehingga stop anti Bullying di Banyuwangi benar benar zero Bullying .
“Acara ini sangat menginspirasi dan menjadi teladan bagi para siswa. Lingkungan pendidikan harus aman, nyaman, manusiawi, dan bebas dari perundungan, apalagi para siswa yang hadir mendapatkan sertifikat sebagai Duta Stop Bullying ” ungkapnya.
Nanik menegasksn , upaya menciptakan sekolah bebas bullying membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari siswa, guru, orang tua, hingga masyarakat.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, seluruh peserta secara bergantian membubuhkan tanda tangan pada kain putih sepanjang 30 meter. Aksi tersebut menjadi simbol persatuan dan tekad bersama untuk menjaga dunia pendidikan dari kekerasan, intimidasi, serta segala bentuk perundungan.
Kain putih bertabur tanda tangan itu menjadi representasi komitmen kolektif sekitar 1.000 siswa dan para pendamping yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Banyuwangi Gaungkan Semangat Zero Bullying
Melalui kegiatan ini, MAKI Jatim berharap gerakan anti-bullying tidak berhenti sebatas deklarasi seremonial, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Para peserta diharapkan mampu menjadi Duta perubahan, berani menyuarakan kebenaran, melindungi teman yang menjadi korban, serta tidak memberikan ruang bagi segala bentuk intimidasi.
Gerakan yang digaungkan dari Bumi Pancoran, Rogojampi, ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi setiap anak untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensi diri.
Dengan semangat Zero Bullying, Sekolah Aman untuk Semua, Banyuwangi menyerukan pentingnya pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga generasi berkarakter, berbudaya, menjunjung tinggi kemanusiaan, dan saling menghargai.
Berani Menolak Bullying, Berani Melapor, Bersama Wujudkan Sekolah Aman dan Bermartabat!**

