Gerak Jalan Tradisional Tanggul-Jember Pecahkan Rekor 25.613 Peserta, Pukul 16.15 Peserta Sudah Sepi
Jember RECORDJATIM.ID Gelaran Gerak Jalan Tradisional Tanggul-Jember (Tajemtra) kembali digelar pada Sabtu (5/9/2026). Sebanyak 25.613 peserta tercatat mengikuti kegiatan tahunan tersebut.
Gerak jalan tradisional ini secara resmi dimulai sekitar pukul 13.20 WIB..

Bupati Jember Muhammad Fawait Didampingi Forkopimda melepas barisan kehormatan sebagai tanda dimulainya kegiatan.
Jumlah peserta yang mencapai lebih dari 25 ribu orang tersebut menjadi catatan tersendiri bagi panitia dan mendapat apresiasi dari Bupati Jember.
Namun, kemeriahan saat pelepasan peserta ternyata belum sepenuhnya membawa berkah bagi para pedagang kaki lima (PKL) yang mengandalkan keramaian peserta dan masyarakat.
Pantauan media dilapangan menunjukkan, kepadatan terjadi saat pelepasan barisan kehormatan. Peserta terlihat berdesakan dan sebagian berjalan secara bersamaan tanpa mengikuti jadwal keberangkatan yang telah ditentukan oleh panitia.
Kondisi tersebut bahkan membuat panitia sempat kaget karena sejumlah peserta tidak berjalan sesuai waktu yang telah diatur. Peserta dari berbagai kelompok baik beregu dan perorangan. terlihat bergerak secara serentak sehingga kerumunan terjadi mulai titik start hingga kearah timur tempat route yang dilalui dipenuhi lautan peserta Tajemtra .
Alun-Alun Tanggul Mulai Sepi Pukul 16.15 WIB
Menariknya, kepadatan saat awal pemberangkatan tidak berlangsung lama. Sekitar pukul 16.15 WIB, suasana di kawasan Alun-Alun Tanggul justru terlihat mulai sepi dari peserta.
Sepinya peserta tersebut turut dirasakan para PKL yang berjualan di sekitar alun-alun. Padahal mereka berharap gelaran Tajemtra mampu meningkatkan omzet penjualan dibandingkan hari biasa.
Budi (40), pedagang es kelapa muda di sekitar Alun-Alun Tanggul, mengaku penjualan pada pelaksanaan Tajemtra kali ini belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Menurutnya, dari kondisi normal yang biasanya mampu menjual sekitar 20-25 buah kelapa muda, saat pelaksanaan Tajemtra dirinya hanya mampu menjual sekitar 30 buah.
“Sepi, Pak. Banyak peserta yang jalan semaunya sendiri, tidak sesuai waktu dari panitia. Akibatnya jam segini sudah sepi. saya biasa jualan setiap hari di alun alun tanggul mulai pagi sampai sore jam 16.00 ,karena ini ada tajem inginnya jualan sampai malam hari ternyata jam 16.00 sudah sepi peserta” keluh Budi .
Kondisi serupa juga dialami Siti, pedagang minuman dan makanan ringan yang biasa berjualan di pojok barat Alun-Alun Tanggul.
Lokasi berjualan Siti sebenarnya cukup strategis karena berada di sekitar titik stempel peserta Tajemtra. Namun, posisi tersebut belum mampu mendongkrak penjualan secara signifikan.
Siti mengungkapkan, pada pelaksanaan Tajemtra kali ini dirinya hanya mampu menjual sekitar 20 botol air mineral.
“Kalau tidak ada kegiatan Tajemtra, sehari pendapatan sekitar Rp100 ribu. Itu pun bukan hanya dari minuman dan snack, tetapi juga dari jual bensin eceran. Saat ada Tajemtra ini pendapatan saya malah sekitar Rp90 ribu,” ungkapnya.
Menurut Siti, kondisi tersebut berbeda dengan beberapa tahun lalu. Sekitar delapan tahun lalu, keramaian peserta Tajemtra masih terasa hingga malam hari.
“Kalau delapan tahun yang lalu, peserta Tajemtra sampai Isyak masih banyak. Tapi sudah sekitar tiga tahun ini peserta pukul 16.00 sudah sepi,” ujarnya.
Peserta Tercatat 25.613 Orang
Berdasarkan pantauan di sekretariat panitia, total peserta yang tercatat dalam Gerak Jalan Tradisional Tanggul-Jember tahun ini mencapai 25.613 orang.
Peserta tersebut terbagi dalam sejumlah kategori, di antaranya peserta perorangan putra 9866 orang , peserta perorangan putri 9 asa 9837 orang, kemudian beregu pelajar putra 17 regu dan beregu putri ada 7 regu , serta beregu umum putra 359 regu dan putri 251 regu .
Besarnya jumlah peserta tersebut seharusnya menjadi peluang bagi pelaku usaha kecil di sepanjang jalur Tajemtra. Namun, fenomena peserta yang bergerak lebih cepat dan tidak mengikuti jadwal keberangkatan membuat konsentrasi keramaian tidak bertahan lama di kawasan Alun-Alun Tanggul.
Bagi PKL, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Sebab, meski jumlah peserta mencapai puluhan ribu, peningkatan jumlah pembeli ternyata belum dirasakan secara signifikan.
Tajemtra akhirnya tidak hanya menyisakan catatan tentang tingginya jumlah peserta, tetapi juga pertanyaan: apakah kemeriahan Gerak Jalan Tradisional Tanggul-Jember masih mampu memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM dan PKL di sepanjang jalur kegiatan?**
